BANGKINANG, BerkasRiau.com – Usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) 2 kali di DPRD, yakni pada Senin tanggal 9 Maret dan Senin 16 Maret 2020 kemarin, tampaknya persoalan proyek di Kabupaten Kampar belum selesai.
Buktinya, Kamis (19/3/2020), para kontraktor kembali melangsungkan pertemuan di Gapensi membahas langkah-langkah yang akan mereka ambil ke depan ini.
Sebebelumnya, kontraktor menyebut, situasi kali ini mirip dengan apa yang terjadi pada 2003 silam.
Hal itu disampaikan oleh Eka Sumahamid di depan Forum RDP bersama DPRD Senin (16/3/2020). Eka membeberkan potensi konflik apabila keinginan kontraktor tidak terakomodir.
“Saya tidak mengancam bapak sekalian, bahwa pertemuan ini pernah dilakukan 2003. Kalau tak terakomodir potensi konfliknya sangat tinggi. Saya berharap perhatian dan peduli persoalan kontraktor di Kampar,” tegas mantan aktivis mahasiswa ini.
Pada 2003, demo besar terjadi dilaporkan dipelopori oleh para kontraktor yang disebabkan oleh berbagai persoalan yang salah satu penyebabnya adalah kebijakan tender/lelang hinga distribusi paket pekerjaan berkategori penunjukan langsung dianggap tidak berpihak pada mereka kala itu.
Jika kita flashback ke 2003 silam, demo saat itu dilaporkan dipelopori oleh para kontraktor, kemudian eskalasinya terus menggelinding hingga berbagai latar belakang profesi juga ikut ambil bagian dalam demo yang tercatat sebagai demo terpanjang yang dilakukan secara non stop itu.
Terkait persoalan kontraktor saat ini, persoalan perut dan asap dapur, biasanya memang akan menimbulkan eskalasi yang tidak sederhana.
Menurut salah seorang kontraktor lain yang kami temui usai RDP Senin (16/3/2020) lalu itu, mengatakan, daripada dapur tidak berasap dan ribut sama bini lebih baik melakukan ”perlawanan” dengan konsekuensi apapun. (Moreno)